KH NOER ALIE

pahlawan sepanjang hayat

Film Singa Karawang-Bekasi (Sinar Harapan)

Singa Karawang-Bekasi”
Upaya Mengingatkan Anak Muda pada Sejarah

Jakarta, Sinar Harapan, 21 Agustus 2003
Menyambut hari ulang tahun ke-58 kemerdekaan RI sekaligus hari jadi Kabupaten Bekasi, PT Putri Karang Setia Cinema Production bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi, Karawang dan Daerah Kota Bek
asi, meluncurkan film Singa Karawang-Bekasi. Film ini mencoba mengingatkan sejarah perjuangan rakyat Karawang-Bekasi tahun 1945-1950 melawan pendudukan Belanda dan sekutu.

Meski ber-setting peristiwa sejarah, film ini juga diramu dengan cerita dan tokoh-tokoh fiksi agar bisa dijadikan hiburan yang menarik bagi penonton muda.

Cerita film ini dipusatkan pada tokoh KH Noer Ali sebagai pimpinan Laskar Hizbullah Sabilillah. Noer Ali juga dikenal sebagai tokoh pendidik yang mengembangkan pesantren di Bekasi serta tokoh pejuang garis depan melawan penjajah. Tokoh lainnya adalah Husein Kamaly, dari pasukan Pelopor, Haji Jole yang mewakili tokoh jawara atau jagoan dan Lukas Kustaryo dari TKR.

Setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, Belanda masih mencoba menjajah lagi dengan bantuan NICA atau sekutu. Rumah penduduk dibumihanguskan, rakyat kecil ditekan atau dibunuh. Sejumlah pejuang ditawan untuk menyurutkan semangat perjuangan. Pemuda Rakyat Indonesia, balas menawan orang-orang Inggris dan India yang mendarat di Rawa Gatel, Cakung pada 23 November 1945. Mereka dibawa ke markas TKR di Ujung Malang, lalu dijebloskan ke tahanan polisi di Bekasi.

Menteri Amir Syarifuddin di Jakarta meminta para pejuang Bekasi agar membebaskan tawanan asing tersebut dan ditukar dengan pembebasan pemuda RI yang ditahan di Jakarta. Dalam perjuangannya, Noer Ali dibantu rekan-rekannya di antaranya Mahmud Ma’sum, Husein Kamaly, Haji Jole dan Yakub Gani. Mereka semua berasal dari berbagai pasukan seperti Hizbullah, TKR, pemuda dan rakyat kebanyakan hingga para jagoan setempat.

Di tengah-tengah upaya mereka melawan penjajah, diselipkan cerita fiksi yang menampilkan simbol-simbol rakyat kecil, pemuda serta anak-anak yang menjadi simbol masa depan. Mereka adalah Haji Komar yang ikut berjuang dengan cara mengirim beras untuk pasukan Hizbullah. Karena desanya habis terbakar, Komar dan istrinya harus berpisah dengan anak-anak mereka, Sanen dan Aisah yang tinggal bersama adik Komar, Sopiah.

Untuk menambah konflik, dihadirkan tokoh Laskar Wanita, Sandra, seorang indo Belanda yang menaruh simpati pada perjuangan rakyat Karawang-Bekasi. Masih ada dua tokoh pemuda yaitu Hafid yang santri dan Mahfud, jagoan Betawi. Meski sama-sama anggota Hizbullah, keduanya saling bertentangan dan parahnya, sama-sama mencintai Sopiah.

Mengenal Sejarah
Sejak awal, para pembuat film ini sepakat bahwa film ini hendak dibuat untuk mengajak masyarakat umum, khususnya generasi muda, untuk mengenal sejarah. Itu sebabnya, film ini banyak memasukkan tokoh muda yang diperankan bintang-bintang masa kini seperti Rendi Bragi sebagai Noer Ali, Winky sebagai Mahfud serta Gladys Angelie sebagai Sopiah.

Keinginan saya tidak muluk-muluk. Saya cuma ingin film ini sebagai tontonan hiburan,” sahut sutradara Nurul Munir Berry yang telah menghasilkan 16 film dokumenter, di antaranya Gong Kiai Prada dan Api Dalam Sekam.

Meski demikian, sisi sejarah tidak diabaikan begitu saja. Seperti dikatakan eksekutif produser Budiyati Abiyoga, pembuatan skenario film ini didasarkan atas buku biografi karya seorang wartawan Tempo, Ali Anwar, yang khusus mengadakan riset selama 10 tahun. Tentu saja, sebuah film tidak mungkin memotret masa lalu secara utuh. Yang terpenting adalah mengangkat semangat juang untuk menumbuhkan jiwa patriotisme dan cinta tanah air pada generasi muda.

Ketika membuat film ini, sempat terbersit apakah memotret sejarah masih mempunyai arti. Tapi kami sepakat tidak akan membuat potret sejarah melainkan hanya mensosialisasikan spirit sejarah,” tandas produser senior yang telah mencetak film-film sukses macam Cinta Dalam Sepotong Roti, Cas Cis Cus dan Badut-Badut Kota.

Singa Karawang-Bekasi mulai diputar di seluruh Indonesia tanggal 21 Agustus 2003. Jika mendapat respons baik, Nurul akan menyiapkan sekuel berikutnya berjudul Rengasdengklok yang mengisahkan kiprah para seniman Karawang Bekasi, seperti Chairil Anwar. (din)

Iklan

Juli 16, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: